
Pagi itu. Prang!!! Keramik antik terakhir koleksi Wini di kamar itu akhirnya menghantam lantai juga. Wini merunduk di sudut kamarnya besimbah peluh dan air mata. Ia meraung dalam isaknya. "Mas..sudah Mas!! Cukuuuup.. Malu sama tetangga pagi-pagi buta begini sudah ribut".
"Persetan dengan tetangga!! Wanita jalang!!! Mata Dodi membulat dan merah, urat-urat merah di bola mata itu bagai kilat-kilat dahsyat yang mengamuk saat badai. Wini tersedak melihat suaminya semakin menggila. Wajah itu merah dan kusut seperti belum pernah tersentuh air seumur hidup. Dengan satu gebrakan saja, meja rias berikut isinya terjungkir balik menyisakan gema mendebum keras. Wini semakin meraung, "Aku Cu..cuma berteman de..dengan Harrr..di Mas.. Percayalah! Demi Tuhan!!" Hibanya terbata-bata di sela-sela tangis.
"Diam kau jalang!! Kado ini apa artinya kalau bukan selingkuh hah!!?" Tuding Dodi, lalu membanting Alexander Julian perfume itu ke dinding, parfum pemberian Hardi pada ulang tahun istrinya kemarin. Wangi tajam parfum itu memenuhi ruangan mereka. Dodi melempar tubuhnya ke ranjang. Dadanya turun naik menahan marah sekaligus lelah yang dirasakannya. Untuk sesaat mereka terdiam, hanya isakan Wini yang masih terdengar sesekali.
Sementara, di tempat yang lain pada pagi yang sama..
Ical mengeliat seperti cacing malas di kasurnya.
Dina jingkrak-jingkrak menuju meja makan dan menyambar sepotong roti lalu berteriak, "Mang Odeng!!! Dah telat nih..!"
Jali terseok-seok mengangkat air buat mandi Emaknya.
Asih ngorok seperti nyanyian kodok saat banjir.
Todi mengelap keringatnya sambil jogging di komplek perumahan sebelah.
Uul masih terlelap.
Tia beranjak ke kamar mandi, Bruno adiknya yang masih SD mengejar tapi telat, Bruno menggedor-gedor pintu kamar mandi dan teriak, "Kak, cepetan ya!! Kebelet nih..!"
Pak Yamin terbaring sekarat di kamarnya, Amin anak satu-satunya khusyuk membaca Yasin untuk kesembuhan Ayahnya.
Dan masih ada jutaan Ical, Dina, Jali, Asih, Uul, Tia, Bruno dan Pak Yamin. Entah apa yang mereka lakukan sekarang, di pagi yang sama.
"Mas, demi Tuhan Hardi itu teman SMA ku dulu..", ratap Wini berulang-Ulang. Ia sudah pasrah terhadap apapun yang akan dilakukan suaminya itu. Dodi masih terlentang di ranjang mereka. Ranjang yang pernah menyatukan nafas-nafas bahagia mereka yang memburu. Ranjang itu pula yang menjadi saksi bisu pertengkaran hebat mereka pagi itu.
Dodi memandang kipas angin kecil yang terus berputar di langit-langit kamar. Ia mulai tenang. Marahnya sudah terlampiaskan habis, lagipula tidak ada lagi barang yang bisa dipecahkannya di kamar itu. Semua sudah hancur, seperti hatinya saat ini. Sekeras apapun Dodi, di sudut kedua matanya nyembul juga butir-butir bening yang terasa hangat menjalari pipi.
Dodi kecewa terhadap Wini, terhadap Hardi, juga terhadap dirinya sendiri. Kenapa ia terlalu setia selama ini? Kenapa ia tidak selingkuh lebih dulu sebelum Wini? Pikiran itu terus berkelumir di benak Dodi. Di sudut kamar itu, Wini berusaha menahan isakan tangisnya.
Masih di pagi yang sama, Ical sontak terbangun setelah seember air mengguyur wajahnya. Ia Cuma bisa mengkerut begitu Abahnya mendelik, "Kenapa! Protes?!"
Saat itu Dina lagi ngomel-ngomel di dalam Suzuki Karimunnya yang terjebak macet, "Ini semua gara-gara Mang Odeng letoy tau!!"
"Maap Non.. Maap…"
"Gua bisa disetrap di depan kelas nih!"
"Maap Non.."
"Sial!!" Dina mendengus seperti sapi. "Kita gak usah ke sekolah lagi Mang, dah telat" Supir pribadinya menoleh heran. "Kenapa, budek ya?! Kita ke Mall aja, gua gak mau disetrap. Jelas?!"
"Baik Non"
Sementara itu, Jali masih terseok-seok mengangkat air, kali ini buat Babenya mandi.
Asih tiba-tiba terbangun ketika sayup-sayup terdengar orang berteriak, "Kebakaran..kebakaran..!!"
Todi lari terbirit-birit dikejar laki-laki botak karena istrinya diganggu.
Uul masih saja tidur.
Tia belum selesai mandi, Bruno duduk bersenderkan daun pintu kamar mandi sambil memegang perutnya dan merintih, "Kak! Hampir keluar nih!!!"
Pak Yamin Terengah_engah menanti ajalnya, Amin anaknya yang sholeh semakin khusyuk membaca yasin.
Dan masih ada jutaan Ical, Dina, Uul, Pak Yamin, Tia, Bruno dan Pak Yamin. Entah apa yang terjadi pada mereka sekarang.
Kamar suami istri itu tetap sunyi seperti kuburan, sampai tiba-tiba, "Kring..! Kring.!" Dodi mendelik ke arah istrinya dengan tatapan curiga. Wini mengangkat telepon itu, tangannya gemetar ketika menyapa. "Hallo.."
"Ya..Hallo Win ini aku Hardi", Wajah Wini pias seketika mendengar nama Hardi, ia buru-buru ingin menutup telepon. Tapi keburu disambar oleh Dodi dengan kasar. "Ini pasti telepon dari Hardi bajingan itu kan!? Kenapa, masih mungkir kau hah..!! Wanita jalang!! Bentak Hardi sambil menjambak rambut Wini.
"Ampun Mas.. Amm mm Pun..!" Tangisnya membahana lagi. Di seberang sana Hardi teriak-teriak "Hallo..Hallo! Win.. Wini!
"Hoy anjing!! Kamu mau janjian lagi sama Istriku hah!!" Maki Dodi di telepon. Hardi tersentak di ujung sana. "Bung..Tenang dulu Bung..Jangan salah paham dulu!
"Bajingan kamu, setelah rebut istri orang masih bilang tenang..tenang.., keparat!!! Awas..Kubunuh kamu!!" Dodi histeris, dadanya turun naik. Emosinya sudah sampai ke ubun-ubun. Wini tak berdaya lagi, jiwa raganya sudah lemah. Wini hanya sesunggukan saja di kaki suaminya.
"Bung dengarkan saya dulu! Saya sahabat lama Wini. Saya Cuma ingin tanya apa surat yang saya kirimkan sudah sampai apa belum? Maaf mengganggu, saya do’akan kalian tetap rukun dan bahagia selalu. Sampai jumpa.." Telepon ditutup. Dodi semakin kalap setelah mendengar perihal surat. Ia keluar tergesa-gesa setelah membanting pintu dengan kerasnya. Wini menutup wajahnya dan terisak-isak lagi.
Dodi meraih sebuah surat yang terselip di sela pintu depan. Ia terpana sesaat ketika membaca sampulnya, To: Wini dan suami tercinta. Ternyata surat itu adalah undangan perkawinan. Di undangan itu tertulis ‘Mohon Do’a Restu, Hardi dan Wanda'. Dan di bagian dalamnya ada pesan pendek yang berbunyi,
'Maaf Wini kalau aku tidak mengabarkan sebelumnya, Wanda ini pacarku yang sering aku ceritakan kekamu itu lho! Aku janji, akan menjadi suami yang sangat perhatian dan setia seperti suami kamu yang selalu kamu puji-puji dan kamu agung-agungkan di depanku itu, hehehe. Oh ya, gimana kadoku sudah kamu terima? Itu kan parfum kesukaanmu sejak dulu! Sekali lagi met ultah ya Wini'.
Dodi jatuh tersungkur setelah membaca pesan singkat itu. Kepalanya menengadah ke atas, dodi meratap. "Ya Allah.. Catat ini sebagai dosaku yang terbesar Ya Allah .Aku telah menyakiti hati istriku yang putih tanpa noda Ya Allah. Aku telah memfitnah istriku sendiri! Aku egois! Tidak perhatian! Bahkan aku tidak tahu merek parfum kesukaannya.. Dan dia masih meninggikan aku di depan orang lain. Ya..Allah ampuni dosaku ini.. Aku suami bejat..!"
Detik itu Wini keluar kamar, lalu berdiri mematung di depan pintu melihat kelakuan suaminya. Ia masih takut suaminya ngamuk lagi. "Mas…" Panggilnya pelan. Dodi tersadar, ia menoleh ke arah Wini dan merangkak tergesa ke tempat Istrinya berdiri. Wini terkejut dan langsung berlari ke arah suaminya dan meraih bahu suaminya, "Ada apa Mas..?" Tanya Wini lembut. Dodi mencium kaki istrinya. "Maafkan akuuuu..." "Sudah Mas, sejak kamu mengataiku tadipun aku sudah memaafkannmu" Kata Wini tulus, lalu mengangkat wajah suaminya itu.
Dodi dilanda keharuan yang sangat hebat. Dodi mencium kening istrinya dengan penuh kasih sayang, lalu ia menatap wajah istrinya. Ia sudah kehilangan kata-kata. Wajah yang begitu lembut itu kini terlihat kusam, kedua matanya bengkak karena terlalu lama menangis, Dodi mencium kedua mata itu dengan sepenuh hati. Rambut Wini yang basah oleh keringat dan awut awutan itu di belai oleh Dodi. Lalu, dodi menangis tersedu dipangkuan istrinya. Ia berjanji tak akan menyakiti istrinya itu sampai kapanpun. Mereka menangis bersama.
Huff..!
Sementara itu masih di pagi yang itu-itu juga. Ical sedang mengayuh sepeda bututnya menuju sekolah, "sungguh membosankan!" keluhnya.
Mang Odeng cuma bisa urut dada ketika Dina tiba-tiba saja sudah ngejongkrok di jok belakang motor gede teman laki-lakinya. "Mang..Nanti sore jemput Gua di gerbang sekolah!" Motor itu langsung melesat. "Baik Non", jawab Mang Odeng di tujukan pada asap knalpot.
Pada waktu itu, Jali masih saja terseok-seok mengangkat air. Kasihan! Kali ini buat mandi engkongnye. Padalah di rumahnya masih ada encangnye, encingnye, dan sepuluh orang tamu nyaknye! Kasihan.. kasihan.
Sementara, asih terbaring sekarat di ICU karena luka bakar. Sebagian tubuhnya nyaris gosong. Asih adalah korban kebakaran yang terjadi di pertokoan tempat tinggalnya pagi itu. Tragis!
Todi masih kucing-kucingan sama si botak. Ironisnya, istri sibotak malah membela Todi mati-matian.
Uul masih juga tidur.
Tia terpaksa menyelesaikan mandinya ketika Bruno sang adik mengancam akan mengambil coklat kesayangannya di kulkas.
Dan..Innalillahi! Pak Yamin telah berpulang ke Rahmatullah dengan tenang, si Amin anak sholeh itu menutup kedua mata Ayahnya yang terbuka, ada sebaris senyum haru di bibir anak itu. "Selamat jalan Ayah...Semoga Allah menempatkanmu di sisiNya.
Masih ada jutaan Ical, Dina, Jali, Asih, Todi, Tia, Bruno dan Pak Yamin. Mudah-mudahan mereka sebahagia Dodi dan Wini sekarang..
Bireuen, pagi pagi buta 2010