Ilustrasi: Desy
Bag.1
KENALAN DULU
Kampus yang ada di depan gue saat ini tidak begitu megah, hanya sebuah kampus swasta yang dipilih para calon mahasiswa yang gagal masuk kampus-kampus negeri. Bangunan kecil bergaya khas arsitektur ketimuran ini terlihat kokoh juga. Di sudut-sudut altarnya terlihat hijau kehitaman didiami lumut. Gua melangkah pasti menuju kerumunan kecil di lobby kampus. "Pasti itu tempat daftarnya" pikir gue. Benar saja, seorang lelaki paruh baya sibuk membagikan formulir. Pendaftarannya sangat mudah. Meski ada test tertulis dan lisan tiga hari kemudian, gue yakin lulus. Tapi yang menarik adalah lelaki paruh baya bernama Samin itu. Bertugas menerima pendaftaran bagi calon mahasiswa dengan hanya mengenakan kaus singlet yang sudah kekuningan. "Waw, hebat.. Kampus apaan ini??"
Selamat datang dunia mahasiswa! Oh ya, nama gue Rio, Seperti gua bilang, gue pasti lulus. Di awal-awal masuk kuliah gue mulai berkecimpung di beberapa organisasi. Lama kelamaan asyik juga. Dan saat menanjak semester tiga, gue sudah mulai Berjaya sebagai aktifis. Banyak kenalan orang-orang penting, sering tampil di depan orang banyak dan beberapa kali tulisan gue dimuat di majalah-majalah kampus. Kalo soal demonstrasi tidak perlu diragukan lagi, beberapa anggota polisi sudah kenal dengan yang namanya Rio, mungkin saja gue sudah masuk DPO (Daftar Pencarian Orang) di instansi kepolisian. Dengan modal itu, gue bisa Mudah berkomunikasi dengan dosen. Buktinya, nilai-nilai gue tidak ancur-ancur banget.
Pacar? Ini dia masalahnya, gue gak pernah awet pacaran, paling lama 3 minggu. Emang sih gue tidak tampan-tampan amat, tapi masuk katagori lumayan lah.. ini kata orang-orang lho! Kalo soal merayu dan memikat cewek secara verbal gue tidak pernah kehabisan bahan.. kata orang juga! Tapi, gue bingung mendefinisikan romantis dalam kata-kata maupun tindakan...ini gue akui sendiri.
Tidak ada cewek yang bisa ngertiin posisi gue sebagai aktivis... (Bersambung)
