Sabtu, 01 Mei 2010

CINTA SEORANG AKTIVIS


Ilustrasi: Desy

Bag.1
KENALAN DULU

Kampus yang ada di depan gue saat ini tidak begitu megah, hanya sebuah kampus swasta yang dipilih para calon mahasiswa yang gagal masuk kampus-kampus negeri. Bangunan kecil bergaya khas arsitektur ketimuran ini terlihat kokoh juga. Di sudut-sudut altarnya terlihat hijau kehitaman didiami lumut. Gua melangkah pasti menuju kerumunan kecil di lobby kampus. "Pasti itu tempat daftarnya" pikir gue. Benar saja, seorang lelaki paruh baya sibuk membagikan formulir. Pendaftarannya sangat mudah. Meski ada test tertulis dan lisan tiga hari kemudian, gue yakin lulus. Tapi yang menarik adalah lelaki paruh baya bernama Samin itu. Bertugas menerima pendaftaran bagi calon mahasiswa dengan hanya mengenakan kaus singlet yang sudah kekuningan. "Waw, hebat.. Kampus apaan ini??"
Selamat datang dunia mahasiswa! Oh ya, nama gue Rio, Seperti gua bilang, gue pasti lulus. Di awal-awal masuk kuliah gue mulai berkecimpung di beberapa organisasi. Lama kelamaan asyik juga. Dan saat menanjak semester tiga, gue sudah mulai Berjaya sebagai aktifis. Banyak kenalan orang-orang penting, sering tampil di depan orang banyak dan beberapa kali tulisan gue dimuat di majalah-majalah kampus. Kalo soal demonstrasi tidak perlu diragukan lagi, beberapa anggota polisi sudah kenal dengan yang namanya Rio, mungkin saja gue sudah masuk DPO (Daftar Pencarian Orang) di instansi kepolisian. Dengan modal itu, gue bisa Mudah berkomunikasi dengan dosen. Buktinya, nilai-nilai gue tidak ancur-ancur banget.
Pacar? Ini dia masalahnya, gue gak pernah awet pacaran, paling lama 3 minggu. Emang sih gue tidak tampan-tampan amat, tapi masuk katagori lumayan lah.. ini kata orang-orang lho! Kalo soal merayu dan memikat cewek secara verbal gue tidak pernah kehabisan bahan.. kata orang juga! Tapi, gue bingung mendefinisikan romantis dalam kata-kata maupun tindakan...ini gue akui sendiri.
Tidak ada cewek yang bisa ngertiin posisi gue sebagai aktivis... (Bersambung)

SEKOLAH; PASAR


CURHAT SEORANG GURU

Ketika mereka berkunjung, pihak sekolah menyambut baik. Di kelas, demonstrasi dan simulasi yang mereka ragakan bisa membuat siswa terkagum kagum. alat-alat yg mereka perkenalkan juga tidak kalah menarik, bentuknya, warnanya, juga fungsi dan nilai edukatifnya. Belajar Matematika, IPA, IPS, dan Bahasa akan lebih seru dengan alat-alat ini... tapi sayang, siswa kurang mampu hanya bisa gigit jari, karena setiap item harus ditukar dengan sejumlah rupiah...

Andai alat-alat edu ini dibagi cuma-cuma, tentu sangat membantu pendidikan kita... apakah ini termasuk komersialisasi pendidikan? entahlah!

Praktek seperti ini sebenarnya sudah tidak asing bagiku, bahkan terjadi didepan hidungku setiap hari, dan aku pernah menganggapnya sebagai kewajaran..
Siswa dilarang keluar kelas kecuali jam istirahat, tapi disela sela jam pergantian guru, kantin sekolah selalu dipenuhi oleh siswa..dan mereka dilayani dengan baik.. (siswa atau pihak kantin yg salah?).

Sementara pada jam istirahat, tarik menarik harga berlangsung hangat di ruang guru.. Dagangannya juga beragam.. guru A menawarkan baju, jilbab hingga kaus kaki. di guru B ada pehiasan dan kosmetik. Masalahnya; praktek ala pasar ini sering tidak mengindahkan bel tanda masuk... nanggung, belum deal kali...! (siapa yg salah? 'inilah sidejob kita, ngandalin gaji aja gak cukup! mau korupsi gak ada yang bisa dikorup! yang ada cuma kapur tulis, itupun harganya gak bisa buat nebus hukuman kalau ketangkap?! ngurangin masa tahanan sehari aja masih kurang!' kata guru C sambil membagi brosur MLM yang dia tekuni)

Ada yang lebih hebat lagi, menjelang jam pulang, tukang ikan langganan sudah nangkring di parkiran.. menunggu beberapa karyawan dan guru yang rela mengorbankan 5 - 10 menit waktu mengajar untuk membeli ikan... kalau nunggu bel pulang repot kali, banyak anak anak!

Jika sudah begini apa masih wajar? ini sekolah atau pasar sih?