
CURHAT SEORANG GURU
Ketika mereka berkunjung, pihak sekolah menyambut baik. Di kelas, demonstrasi dan simulasi yang mereka ragakan bisa membuat siswa terkagum kagum. alat-alat yg mereka perkenalkan juga tidak kalah menarik, bentuknya, warnanya, juga fungsi dan nilai edukatifnya. Belajar Matematika, IPA, IPS, dan Bahasa akan lebih seru dengan alat-alat ini... tapi sayang, siswa kurang mampu hanya bisa gigit jari, karena setiap item harus ditukar dengan sejumlah rupiah...
Andai alat-alat edu ini dibagi cuma-cuma, tentu sangat membantu pendidikan kita... apakah ini termasuk komersialisasi pendidikan? entahlah!
Praktek seperti ini sebenarnya sudah tidak asing bagiku, bahkan terjadi didepan hidungku setiap hari, dan aku pernah menganggapnya sebagai kewajaran..
Siswa dilarang keluar kelas kecuali jam istirahat, tapi disela sela jam pergantian guru, kantin sekolah selalu dipenuhi oleh siswa..dan mereka dilayani dengan baik.. (siswa atau pihak kantin yg salah?).
Sementara pada jam istirahat, tarik menarik harga berlangsung hangat di ruang guru.. Dagangannya juga beragam.. guru A menawarkan baju, jilbab hingga kaus kaki. di guru B ada pehiasan dan kosmetik. Masalahnya; praktek ala pasar ini sering tidak mengindahkan bel tanda masuk... nanggung, belum deal kali...! (siapa yg salah? 'inilah sidejob kita, ngandalin gaji aja gak cukup! mau korupsi gak ada yang bisa dikorup! yang ada cuma kapur tulis, itupun harganya gak bisa buat nebus hukuman kalau ketangkap?! ngurangin masa tahanan sehari aja masih kurang!' kata guru C sambil membagi brosur MLM yang dia tekuni)
Ada yang lebih hebat lagi, menjelang jam pulang, tukang ikan langganan sudah nangkring di parkiran.. menunggu beberapa karyawan dan guru yang rela mengorbankan 5 - 10 menit waktu mengajar untuk membeli ikan... kalau nunggu bel pulang repot kali, banyak anak anak!
Jika sudah begini apa masih wajar? ini sekolah atau pasar sih?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar